Fase Kebangkitan Umat Islam : Konsep Hasan Al Banna tentang Penegakkan Khilafah

Disampaikan oleh : M. Dikyah Salaby Maarif*

I. Pendahuluan

Kebangkitan Islam sangat identik dengan pembaharuan di Mesir. Hal ini terjadi karena pada sekitar abad XIX akhir atau lebih tepatnya memasuki abad XX banyak pemikir Islam yang mempunyai jiwa pembaharuan muncul dari negara ini. Sebut saja Muhammad Abduh yang terkenal dengan gerakan tajdidnya. Manufer Muhammad Abduh sangat terkenal terutama di bidang pemikiran dan metodologi pengajaran dalam Islam yang menganut sistem modern. Saat itu tidak sedikit ulama kolot yang menentangnya dan menganggap hasil pemikirannya ini telah melenceng jauh dari ajaran Islam yang murni[1].

Namun di sisi lain respon posistif bermunculan dari berbagai kalangan terutama kalangan terpelajar dan orang – orang atau ulama yang sadar betul bahwa keadaan umat Islam saat itu baru berada dalam titik nadir kemerosotan yang membutuhkan sebuah ghiroh baru dalam nuansa gerakan Islam. Respon itu setidaknya muncul dari murid – murid beliau. Rasyid Ridho adalah seorang murid yang terdekat dan mempunyai ketenaran seperti sang guru. Pemikiran – pemikiran pembaharuan yang dimajukan Rasyid Ridho tidak jauh berbeda dengan ide – ide Muhammad Abduh[2] dan Jamaluddin Al Afghani[3].

Jika Muhammad Abduh dan para pengikutnya menonjol dibidang pemikiran, maka ada seorang sosok yang hidup semasa dengan Rasyid Ridho mempunyai corak gerakan yang berbeda dan mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam nuansa pegerakan Islam kontemporer. Sosok itu adalah Hasan Al Banna[4].

Antara tokoh pembaharu Islam yang bercorak pemikir seperti Muhammad Abduh dan para pengikutnya ataupun tokoh pembaharu Islam yang bercorak gerakan seperti Hasan Al Banna mempunyai satu pemikiran yang sama ketika di tanya tentang penyebab kemunduran dan kemrosotan umat Islam yaitu bahwa umat Islam tidak lagi berpegang teguh kepada Al Qur an dan As Sunnah dan tidak lagi menganut ajaran – ajaran Islam secara sebenarnya[5]. Hanya saja terjadi perbedaan teknik atau corak gerakan antara tokoh yang satu dengan yang lain dalam upayanya mengentaskan kondisi umat dari kemunduran.

Dalam hal ini, Hasan Al Banna mempunyai pemikiran bahwa kejayaan Islam akan kembali dimiliki oleh umat Islam manakala umat itu diatur dan dijamin oleh sebuah perangkat atau sitem yang mengacu kepada AL Qur an dan Al Hadis serta para Salafussholeh. Dan tentunya terciptanya sistem itu bukan berasal dari paksaan segolongan umat yang merasa telah kuat, tapi melalui sebuah mekanisme bottom up yaitu penyiapan masyarakat muslim dari struktur yang terkecil hingga struktur yang besar. Cita – cita itu mulai direalisasikan olehnya dengan jalan mendirikan sebuah jamaah yang diberi nama dengan AL Ikhwan Al Muslimun yang sampai sekarang masih eksis[6].

II. Pembahasan

HASAN AL BANNA

Hasan Al Banna adalah sosok manusia yang cerdas pemikirannya, tajam analisanya dan penuh dengan nuansa ruhiyah dalam kehidupan sehari – hari. Perjuangan yang telah ia rintis sejak …. Tahun lalu hasilnya telah dapat dirasakan oleh manusia diseluruh dunia meskipun belum sampai kepada cita – cita yang diharapkan. Bagi manusia yang mengharapkan kembalinya kejayaan Islam sebagai agama penebar rahmat, kasih sayang, penegak keadilan dan kebenaran, maka ia akan salut terhadap kehadirannya. Begitu sebaliknya bagi orang tidak suka akan keteraturan, militansi keberagamaan, serta musuh – musuh ideologinya, sudah tentu merasa gerah dan terusik akan kedatangannya. Bagaimana tidak, ia mampu mentarbiyah[7] seorang tukang kayu sederhana menjadi seorang yang cerdas dan mampu mematahkan argumentasi seorang Direktur Otorita terusan Suez, Monsieur Saulant[8].

Jamaah yang didirikannya ternyata banyak mendapat dukungan dari Ulama – Ulama Mesir waktu itu. Oleh karena itu tidak mengherankan apabila seorang Hasan Al Banna yang berumur belum melampoi angka 22 telah memimpin tokoh – tokoh besar seperti Syaikh Muhibbudin Al Khatib ( Tokoh Salafi, tokoh Anshoru Shunnah dan Ahlul Hadis ), Syaikh Amien Al Husaini ( Mufti Palestina ), Syaikh DR. Musthofa As Siba’i ( ahli hukum, pejuang Palestina, dan intelektual yang disegani ), juga syaikh Muhammad Al Faraghly Patriot besar yang hanya mau keluar dari Iskandaria bila Hasan Al Banna menyuruhnya, bukan Inggris dan segala kekuatan tentaranya.

Seorang yang telah menghafal Al Qur an, ribuan hadis, dan tidak kurang dari 18.000 bait syair Arab ketika SMU ini lahir pada tahun 1906 di kota Mahmudiyah, sebuah kawasan Iskandariyah, Mesir. Orang tuanya adalah orang biasa yang mempunyai harapan besar kepada anaknya agar menjadi orang sholeh kelak ketika telah dewasa. Oleh karena itu, ayah Hasan selalu menekankan pada anaknya untuk bisa menghafal Al Qur an.

Ketika usia sekolah dasar, Hasan sekolah di Madrasah Diniyyah Ar Rasyad, yaitu sebuah madrasah yang didirikan oleh Syaikh Muhammad Zahran, seorang tuna netra yang mendirikan sekolah swasta dengan model pendidikan modern. Ustadz Muhammad Zahran menguasai teknik mengajar dan mendidik secara efektif dan membuahkan hasil, meskipun tidak pernah mengenyam ilmu pendidikan dan tidak pernah mendapatkan kaidah – kaidah ilmu psikologi. Beliau lebih banyak bersandar kepada kebersamaan hati nurani antara diri dan muridnya. Dengan kedalaman ilmu yang dimiliki sang ustadz, Hasan sangat terpengaruh olehnya terutama tentang kecintaan terhadap ilmu. Sehingga ketika sekolah dimadrasah ini, ia telah menghatamkan beberapa karya ilmiyah disamping di minta membacakan buku oleh Syaikh Zahran. Hasan juga sering menemani Syaikh ini berdiskusi membahas masalah – masalah tertentu dengan para tokoh penting atau para ilmuwan.

Karena kesibukan Syaikh Zahran yang begitu luar biasa, maka pengelolaan madrasah diberikan kepada ustadz – ustadz lain yang tentu saja kualitasnya berada jauh dibawah Syaikh Zahran. Ketika itu ayah Hasan menginginkan ia untuk pindah sekolah ke Madrassah I’dadiyah yang didalamnya terdapat pelajaran – pelajaran tambahan seperti Undang – Undang pertanahan, perpajakan dan bahasa Arab secara mendalam.

Di sekolah ini Hasan mendirikan sebuah organisasi yang diberi nama perhimpunan Akhlaq Mulia atas inisiatif Ustadz Muhammad Afandi Abdul Khaliq, guru matematik dan olah raga. Organisasi ini bersepakat untuk mengenakan denda kepada para siswa dan pengurus yang melanggar kesepakatan yang telah ditentukan. Hasil denda tadi digunakan untuk memberikan bantuan terhadap teman yang membutuhkan bantuan atau tidak mempunyai biaya.

Perkumpulan ini dirasa sukses, maka beberapa kader inti menginginkan memperluas jaringan dan wilayah da’wah keluar. Merekapun bersepakat untuk mendirikan Jami’ah Man’ul Muharromat. Aktivitas yang dilakukan adalah memberikan teguran kepada para pelaku dosa dengan melayangkan surat secara sembunyi – sembunyi. Hingga suatu saat, salah satu personel mereka tertangkap ketika menjalankan tugas oleh pemilik kafe yang menyediakan penari wanita.

Disisi lain, pada tahun 1916 tejadi revolusi Mesir. Berbagai Demonstrasi yang dilakukan oleh para mahasiswa dan pemogokan – pemogokan massal yang dilakukan oleh buruh – buruh. Hasan ketika itu yang berumur tiga belas tahun telah mengikuti demo – demo dan pemogokan yang dilakukan oleh mahasisiwa dan elemen yang lain. Ketika itu ia beberapa kali dipanggil pihak kepoliasian setempat karena dianggap selalu menggerakkan teman – temannya untuk melakuan demo atau turun kejalan. Hingga suatu saat kost menginap Hasan Al Banna di jadikan tempat untuk menyetting sebuah demontrasi besar – besaran, ketahuan oleh intel. Namun akhirnya ketika Hasan Al Banna di interogasi oleh aparat, ia justru mampu membangkitkan semangat nasionalisme intel tersebut yang akhirnya membiarkan anak – anak itu melakukan aktifitas mereka.

Setelah lulus dari madrasah I’dadiyah ia masuk ke Madrasah Al Mu’allimin Al Awaliyah di Damanhur. Ketika itu Hasan baru berusia tiga belas setengah tahun dan hafalan Al Qur annya telah mencapai Surat Yasin. Ketertarikannya terhadap sebuah aliran tariqoh muncul pada saat ini. Ia merasa kagum terhadap Ikhwan Hasafiyah yang melakukan dzikir setiap malam seusai sholat isya, ketika Hasan selesai menghadiri kajian yang di isi oleh Syaikh Zahran.

Tarekah Hasfiyah didirikan oleh Syaikh Hasanain Al – Hashafi ayah dari Syaikh Abdul Wahhab Al – Hashafi[9]. Pendiri tarekah ini adalah seorang ulama Azhari yang telah mendalami Fiqh menurut madzhab Al Iman As Syafi’iserta mendalami ilmu – ilmu agama secara luas[10]. Da’wah beliau dibangun atas fondasi ilmu, ibadah, ketaatan dan dzikir. Beliau memerangi berbagai bid’ah dan khurafat yang merajalela ditengah para pengikut tarekat. Amalan yang paling populer di tarekat ini adalah wazifah Az Zuruqiyah[11].

Selama tiga tahun berada di madrasah Al Mu’allimin, ia tenggelam dalam lautan tasawuf dan ibadah. Namun ia tidak tertinggal dalam program madrasah yang telah ditetapkan karena ia telah mempunyai perpustakaan di tambah perpustakaan sang ayah yang sangat membantu kesuksesanya dalam mengikuti pelajaran. Koleksi – koleksi yang memberi pengaruh yang sangat mendalam dalam jiwanya antara lain adalah Al – Anwar Al – Muhammadiyah karangan An Nabhani, Mukhtashar Al – mawahib Al – Laduniyah karya Al – Qastalani, dan Nurul Yaqin Fi Sirah Sayyidil Mursalin, tulisan Syaikh Hudhari selain ia sering membaca membaca majalah Al Manaar.

Selepas dari Madrasah Al Muallimin ia meneruskan pendidikan ke Darul ‘ulum Kairo. Hasan Al Banna menempuh program Diploma disana. Setelah empat tahun belajar di Darul Ulum, akhirnya saat ujianpun tiba. Hasan Al Banna mengikutinya dengan sungguh – sungguh bahkan untuk mempersiapkan ujian lisannya ia telah menghafalkan delapan belas ribu bait syair. Dengan persiapan yang luar biasa maka hasilnya pun tidak mengecewakan. Ia termasuk dari delapan orang yang dikirim oleh Departemen pendidikan untuk menjadi guru di sebuah kota bernama Ismailia. Kota inilah yang selanjutnya menjadi tempat perkembangan awal Jamaah Ikhwanul Muslimin.

Selama hidupnya Hasan Al Banna hanya menciptakan dua tulisan ( buku ) yaitu Majmu’ah Ar Rosail dan Mudzakirot Ad Da’wah wa Ad Da’iyah. Akan tetapi seluruh pemikiran yang di cetuskan oleh beliau baik ketika disampaikan dalam pidato, seminar ataupun berupa surat yang disampaikan kepada para penguasa telah di bukukan oleh para pengikutnya.

KONSEP HASAN AL BANNA TENTANG KHILFAH

Sesungguhnya Khilafah Islamiyah menurut Hasan Al Banna bukanlah tujuan akhir dari apa yang terkonsep di dalam otaknya. Berikut cuplikan pidato yang telah disampaikanya di hadapan para mahasiswa dalam sebuah acara khusus[12].

Wahai pemuda !

Sesungguhnya, manhaj Ikhwanul Muslimin itu telah jelas tahapan dan langkah – langkahnya. Kalian tahu benar apa yang kami inginkan dan kami paham benar sarana apa yang dipergunakan untuk mewujudkan keinginan itu.

  1. Pertama – tama, kami menginginkan seorang yang muslim dalam pola pikir dan akidahnya, dalam moralitas dan perasaannya, serta dalam amal dan perilakunya. Ini merupakan salah satu upaya pembentukan individu mukmin dalam dakwah kami.
  2. setelah itu, kami menginginkan terbangunannya rumah tangga yang islami dalam pola pikir dan akidahnya, dalam moralitas dan perasaannya, serta dalam amal dan perilakunya. Untuk itu kami juga memperhatikan kaum wanita sebagaimana perhatian kami kepada kaum pria. Kami juga memperhatikan anak – anak sebagaimana perhatian kami kepada para pemuda.
  3. Setelah itu, kami juga menginginkan sebuah bangsa yang muslim. Untuk itulah, Kami berusaha agar dakwah kami sampai kesetiap pelosok, suara kami bisa didengarkan disetiap tempat, fikroh kami bisa dipahami dengan mudah, serta bisa menerobos keseluruh penjuru desa, kota dan pusat – pusat kegiatan. Untuk itu, kami tidak akan menyia – nyiakan potensi dan sarana yang ada.
  4. Setelah itu kami menginginkan sebuah pemerintahan Islam yang bisa memimpin bangsa menuju masjid dan membimbing manusia kepada hidayah Islam, sebagaimana pemerintahan Islam yang sebelumnya yang telah berhasil membawa mereka kejalan itu dengan bimbingan para sahabat rosul, seperti Abu Bakar dan Umar ra. Dari sinilah kami tidak mengakui sistem pemerintahan apapun yang tidak menekankan dan tidak bertumpu pada asas Islam. Kami juga tidak mengakui partai – partai politik yang ada dan berbagai bentuk pemerintahan yang koservatif yang dipaksakan oleh orang – orang kafir dan musuh – musuh Islam untuk menerapkan dan mengamalkannya. Kami akan berusaha untuk menghidupkan sistem hukum Islam dalam setiap aspeknya dan membangun pemerintahan yang Islami dengan berasaskan sistem ini.
  5. Setiap itu, kami menginginkan agar setiap jengkal dari negri – negri kami yang muslim bergabung bersama kami. Negri – negri itulah yang dahulu dijajah dan dipecah – belah oleh sistem politik barat dan diporak – porandakan kesatuannya oleh ambisi bangsa – bangsa Eropa. Oleh karena itu, kami tidak mengakui adanya pembagian – pembagian teritorial yang bersifat politis dan berbagai kesepakatan Internasional yang ada setelahnya, karena semua itulah yang telah menjadikan negara Islam yang besar ini terpecah menjadi negara – negara kecil yang lemah, sehingga mudah dikuasai oleh penjajah. Kami tidak akan tinggal diam terhadap proyek pemberangusan kemerdekaan bangsa dan membiarkan mereaka menjadi budak bangsa lainnya.. Mesir, Syiria, Iraq, Hijaz, Libya, Tunis, Al Jazair, Mauritania dan setiap jengkal tanah yang didalamnya terdapat seorang muslim yang berseru Laa Ilaaha Illalloh, semua itu adalah negara Islam Raya. Kami berusaha untuk memerdekakan, menyelamatkan, memebebaskan dan mempersatukan antara yang satu dengan yang lain. Kalau penguasa Jerman memaksakan kehendaknya untuk melindungi setiap orang yang mengalir ditubuhnya darah Aria, maka sesungguhnya ajaran Islam mewajibkan kepada setiap muslim agar menjadikan dirinya pelindung kepada siapa saja yang relung jiwanya terisi oleh ajaran Al – Qur an. Oleh karenanya, dalam tradisi Islam, faktor kesukuan tidak boleh dominan daripada faktor iman. Dalam Islam akidah adalah segalanya. Bukankah hakikat keimanan seseorang tercermin dari pengungkapan cinta dan bencinya ?
  6. Setelah itu kami menginginkan agar panji Islam kembali berkibar memenuhi jagad raya. Dahulu pada beberapa kurun waktu wilayah – wilayah itu pernah berjaya dibawah naungan Islam. Bergema didalamnya suara takbir dan tahlilnya. Kemudian datanglah masa dimana para penjajah berupaya memadamkan cahayanya maka kembalilah wilayah – wilayah itu kepada kekufuran. Andalusia, Cicilia, Balkan, Negara – Negara Italia bagian selatan dan Cyprus, semua itu dulu merupakan Wilayah – wilayah Islam, dan diwaktu mendatang harus kembali kepangkuan Islam. Laut tengah dan Laut Merah yang merupakan laut Islam juga harus kembali seperti sedia kala. Jika Jendral Musolini berpendapat bahwa imperium Romawi dan Negara – Negara yang tergabung dalam imperium itu dahulu harus kembali kedalam rengkuhannya – yang itu hanya didasarkan atas ambisi dan desakan hawa nafsu – maka tentunya kita lebih berhak untuk mengembalikan kejayaan imperium Islam, yang pernah tegak diatasnya kebenaran dan keadilan, dan yang telah menebarkan cahya hidayah kepada sekalian manusia.
  7. Setelah itu, dengan berkibarnya panji Islam tadi kami bermaksud mendeklarasikan dakwah ini kepada seluruh alam menyampaikannya kepada sekalian manusia, memenuhi seantero bumi dengan ajarannya, dan memaksa setiap penguasa yang diktaktor untuk tunduk kepadanya. Sampai akhirnya tidak adalagi fitnah dan agama ini semua milik Allah. Saat itulah kaum muslimin bergembira dengan pertolongn Allah. Allah menolong siapa saja yang dikehendakinya dan Dia maha pe rkasa dan maha Pemurah.

Konsep Daulah dan Khilafah Islamiyah yang ditawarkan oleh Hasan Al Banna tedapat pada poin yang ke lima dan keenam tersebut diatas diperinci lagi oleh Said Hawwa sebagai berikut[13] :

Daulah Islamiyah yang kita kehendaki adalah daulah inti. Mungkin saja kita dapat menegakkan sebuah Negara Islam di suatu wilayah. Namun bisa jadi negara ini tidak memenuhi syarat untuk menjadi pemerintahan yang dapat memimpin dalam beramal Islami di pentas dunia internasional. Sebagaimana ia tidak direkomendasikan untuk memimpin negara – negara Islam di seantero jagat. Hal ini boleh jadi karena standar kualifikasinya rendah, posisi teritorialnya terpencil, juga mungkin karena lemahnya posisi geografis, politik, dan ekonominya, atau karena faktor lain. Berikut dicantumkan bebrapa kewajiban yang akan dipikul oleh daulah yang di maksud, yakni :

  1. Memimpin Negara – Negara Islam. Oleh karena itu posisinya harus berrada di wilayah dunia Islam sebagai pusat kepemimpinanannya. Kepemimpinan ini tidak bersifat klaim dan juga permintaan.Namun ia adalah merupakan aktifitas yang diterimakan oleh Negara – Negara Islam kepada suatu negara dengan cara yang benar. Mungkin diantara banyak bangsa, bangsa Arablah yang patut untuk direkomendasi untuk memainkan peran ini.
  2. Ia menghimpun keberagaman kaum muslimin. Keberadaan Daulah inti harus menyentuh kepada setiap muslim di dunia. Ia memberi, mengambil, meminta, dan melindungi keberadaannya.
  3. Mengembalikan keagungan umat Islam dengan mengembalikan kekuasaan politik Islam, serta mengembalikan bumi dan tanah air Islam yang telah dirampas oleh penjajah. Semua itu menjadi tanggungjawab Daulah Islam inti.Tanggung jawab ini tidak mungkin dipikul oleh negara kecuali mempunyai karakter tertentu dalam bidang politik, ekonomi dan militer.

Ketika Daulah yang dicita – citakan itu telah kokoh, maka langkah selanjutnya untuk mendeklarasikan sebuah kekhalifahan Islam barulah bisa tercapai. Sebagaimana kata Hasan Al – Banna “ Mengembalikan eksisitensi daulah Islam kepada umat Islam dengan membebaskan Negaranya, menghidupkan keagungannya, mendekatkan peradabannya, menghimpun kalimatnya hingga semua itu mengantarkan kembalinya khilafah Islamiyah yang telah hilang dan persatuan yang dicita – citakan “. Satu hal yang perlu di catat adalah, Hasan Al Banna menganggap bahwa proklamasi khilafah secara resmi dilakukan pada tahap – tahap akhir saja demi memperoleh maslahat yang banyak.

Oleh karena itu banyak sekali agenda yang harus di lewati dan membutuhkan banyak persiapan yang harus direlisasikan. Langkah besar dalam upaya mengembalikan eksistensi kekhilafahan harus didahului oleh beberapa langkah, antara lain[14] :

  1. Harus ada kerjasama penuh antar berbagai bangsa muslim dalam masalah budaya, sosial dan ekonomi.
  2. Membentuk berbagai kesepakatan, membuat lembaga – lembaga kerja sama, dan mengadakan seminar antar Negara.
  3. Membentuk perserikatan bangsa – bangsa muslim, sehingga apabila hal ini sudah terlaksana dengan sempurna, akan lahirlah sebuah kesepakatan untuk mengangkat seorang imam menjadi seorang penengah, pemersatu, penentram hati, dan cerminan dari lindungan Allah di muka bumi.

SARANA – SARANA MENUJU KHILAFAH ISLAMIYAH

Hasan Al Banna dan teman – teman seperjuangannya sangat memahami betul tabiat dari jalan menuju kemakmuran umat Islam di muka bumi. Oleh karena itu di butuhkan satu perangkat baku yang dijadikan sebagai pedoman dan sistem kerja sehingga dapat mencapai target berkesinambungan antara generasi satu kepada generasi berikutnya.

Hal terpenting yang sangat mendukung keberhasialan setiap langkah yang di tetapkan adalah kualitas personal. Untuk ini Hasan Al Banna telah menentukan satu standar kualifikasi kepada para pengikut fikrohnya yang terakumulasi didalam kewajiban – kewajiban seorang mujahid. Kewajiban – kewajiban ini berisikan empat puluh etiket yang harus dilakukan oleh para kadernya sebagai interpretasi dari rukun baiat[15].

Adapun sarana – sarana yang telah ditetapkan dalam menuju kembalinya kekhilafahan Islam secara khusus dan kembalinya kejayaan Islam di muka bumi secara umum adalah[16] :

· Usrah, yaitu semacam komunitas – komunitas kecil dalam Jamaah Ikwan atau semacam grup – grup studi yang berisikan nasehat – nasehat juga sebagai wadah untuk saling mengenal, saling memahami dan saling menanggung antara anggota satu dengan yang lain.

· Katibah, adalah sebuah agenda bersama yang diadakan secara rutin oleh beberapa kelompok usrah. Kegiatan ini dilakukan pada malam hari untuk bermuhasabah dan beristighfar serta diisi juga dengan berbagai macam training.

· Rihlah, yaitu sebuah kegiatan yang ditujukan untuk mempererat rasa persaudaraan, melatih kedisiplinan, mengembangkan daya kreatifitas berpikir dan menghilangkan kejenuhan akibat banyaknya rapat atau agenda – agenda kerja yang terlalu padat.

· Mukhayam, adalah sebuah training yang berisikan unsur – unsur pengumpulan, tarbiyah dan pelatihan dengan melalui pendekatan seperti militer.

· Daurah, yaitu training yang berisikan pengembangan wawasan dan kecakapan serta penyamaan visi guna menjaga orisinilitas ajaran Islam dalam mencapai dan menunaikan tugas – tugas da’wah.

· Nadwah, adalah sebuah forum bertemu dan berkumpulnya para pimpinan untuk membahas masalah – masalah penting yang harus segera diselesaikan.

· Muktamar, adalah forum besar yang di dalamnya membahas misi – misi kedepan dalam mencapai cita – cita.

II. Kesimpulan

Hasan Al Banna, dengan segala sepak terjangnya yang luar biasa di bidang pergerakan Islam, patut di juluki sebagai tokoh pergerakan Islam kotemporer abad ini. Dengan kedalaman nuansa ma’nawiyah serta kecerdasan akalnya, beliau telah mampu mengguncang eksistensi musuh Allah yang bercokol di bumi Islam[17].

Beliau juga sangat serius dalam upayanya menegakkan kembali khilafah Islamiyah yang pernah cemerlang. Khilafah ini harus ditegakkan karena menurut beliau terlaksananya hukum – hukum Islam hanya tersandar kepadanya. Jalan menuju khilafah ini bukanlah melalui kekerasan, akan tetapi melalui proses penyiapan masyarakat dari pembinaan pribadi muslim, kemudian dari pribadi – pribadi yang terbentuk menjadilah sebuah keluarga muslim yang islami. Dari keluarga – keluarga islami tersebut, terciptalah sebuah masyarakat yang Islam. Kemudian akhirnya teciptalah persatuan umat Islam seluruh dunia[18].

Daftar Pustaka

Aboebakar. 1956, Sejarah Al Qur an. Sinar – Bupemi. Surabaja – Malang. 368p

Al Banna, Hasan. 1999. Memoar Hasan Al Banna. Era Intermedia. Solo. 415p

Al Banna, Hasan. 2000. Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin. Era Intermedia, Solo.415p

Hawwa, Sa’id. 1999. Membina Angkatan Mujahid : Studi Analitis Atas Konsep Da’wah Hasan Al Banna dalam Risalah Ta’alim. Era Intermedia. Solo. 264p

Mahmud, A.A.H. 1999. Perangkat-Perangkat Tarbiyah Ikhwanul Muslimin. Era Intermedia. Solo. 376p

Nasution, Harun. 1975. Pembaharuan Dalam Islam : Sejarah Pemikiran Dan Gerakan. Bulan Bintang. Jakarta. 216p


* Mahasiswa KUI – I sem IV NIM ( 02391284 ). Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Sejarah Peradaban Islam.

[1] H. Aboebakar, Sedjarah Al – Qur an, hal 347

[2] Prof. Dr. Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam Sejarah Pemikiran Dan Gerakan, hal 72

[3] Jamaluddin Al Afghani adalah guru dari Muhammad Abduh yang bertemu sekitar tahun 1872.

[4] Hasan al Banna adalah seorang tokoh yang tidak senang menulis, beliau lebih senang menelorkan konsep yang dimiliki dalam betuk amal. Sebagaimana ditulis dalam karyanya yang berjudul Memoar Hasan Al Banna, hal 25 “ Kalaulah saya berpesan, ( kepad orang – orang yang mendermakan dirinya untuk beramal dan mereka menyadari bahwa dirinya adalah orang yang rentan bersinggungan dengan pemerintah ) agar mereka tidak getol menulis, hal itu karena lebih baik bagi dirinya dan bagi masyarakat banyak. Selain hal itu akan menjauhkan kekeliruan penafsiran dan interpretasi ”.

[5] Prof. Dr. Harun Nasution, Op. Cit., hal 72

[6] Di Indonesia Jamaah Al Ikhwan Al Muslimun keberadaannya agak simpang siur karena ada beberapa gerakan yang menisbahkan jamaahnya dengannya ( ikhwan ) seperti gerakan Ikhwanul Muslimin Indonesia versi Habib Al Habsyi atau Ikhwanul Musliminnya Toto Tasmara.

[7] Tarbiyah adalah suatu sistem perkaderan yang diterapkan dalam jamaah Ikhwanul Muslimin untuk menggembleng para kadernya hingga memiliki sebuah militansi yang sangat kuat terhadap Islam.

[8] Hasan Al Banna, Memoar Hasan Al Banna, hal 128

[9] Syaikh Abdul Wahhab Al Hashafi adalah guru yang mengajarkan tarekat kepada Hasan Al Banna, meskipun sering terjadi perbedaan pendapat antara murid dan guru ketika sudah berdiskusi tentang kondisi umat yang akhirnya Hasan Al Banna mendirikan Ikhwanul Muslimin.

[10] Ibid, halaman 36

[11] wirid ini berisikan ayat – ayat Al Qur an dan Hadis Nabi mengenai doa – doa pagi dan petang.

[12] Hasan Al Banna, Risalah pergerakan Ikhwanul Muslimin jilid I, Hal 132

[13] Said Hawwa, Membina Angkatan Mujahid, hal 65.

[14] DR. Ali Abdul Halim Mahmud, Perangkat – perangkat Tarbiyah Ikhwanul Muslimin, hal 121

[15] baiat dalam ikhwanul Muslimin adalah janji setia untuk beramal menegakkan Islam. Supaya amal – amal itu mempunyai kualitas tinggi, maka dalam baiat itu terdapat rukun baiat yang harus dihafalkan dan di fahami oleh setiap anggota Ikhwan. Rukun baiat ini berisikan Faham, Amal, Ikhlas, Jihad, Pengorbanan, Taat, Teguh Pendirian, Totalitas, Persaudaraan dan Percaya.

[16] DR. Ali Abdul Halim Mahmud, Op. Cit., hal 123 – 369

[17] Beliau memimpin pasukan mujahidin sebanyak 10.000 orang untuk membebaskan Palestina, yang waktu itu pasukan Israel sudah terdesak hingga berada 3 mil dari pantai. Namun usaha yang hampir berhasil itu gagal karena pihak resmi Arab mau menandatangani perjanjian perdamaian dan menangkap seluruh pasukan mujahidin yang dikirim ke Palestina.

[18] Langkah ini juga di gunakan oleh Husain bin Muhammad bin Jabir dalam thesis yang diajukannya dalam meraih gelar MA. Kemudian thesis itu di jadikan buku yang berjudul Menuju Jamaatul Muslimin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: